29 August 2009

Malaysia Berniat Jadi Induk Budaya Melayu


Jakarta - Malaysia sudah membeli semua karya sastra dan budaya dari Kepulauan Riau dan Mentawai. Malaysia akan segera mendeklarasikan diri sebagai induk budaya Melayu.

"Hari ini Malaysia sudah membeli semua karya sastra dan budaya dari Kep Riau dan Mentawai. Indonesia nanti hanya bagian kecil induk budaya Melayu," ujar pegiat masyarakat nusantara Bondan Gunawan.

Bondan mengatakan itu dalam diskusi bertajuk 'Menjaga Bumi dan Budaya Indonesia' di Warung Daun, Jl Pakubuwono 10, Jakarta Selatan, Sabtu (29/8/2009).

Bondan menilai, langkah Malaysia yang membeli karya sastra dan budaya Indonesia dapat dikategorikan teror budaya. Malaysia telah mendeklarasikan perang budaya terhadap Indonesia.

"Apa yang harus kita lakukan marilah kita berpegang kepada Pancasila yang menyatukan persatuan nasional," sarannya.

Sumber : detik.com

15 July 2009

IBU HARUS MELINDUNGI


Catatan 9 Juli 2009

Catatan pertama tentang seharusnya begini, aku mulai dari cerita seorang ibu. Wanita yang telah mengandung kita selama 9 bulan. Wanita yang derajatnya 3 tingkat lebih tinggi dari ayah. Wanita yang di telapak kakinyalah surga kita berada. Wanita itu sangat istimewa, itulah ibu.

Mengingat ibu, mengingat tentang kebaikannya, ketulusannya, dan kehalusan sentuhan kasih sayangnya, selalu menyisakan rasa haru di dada. Apalagi kalau mengenang kebandelan kita ketika diberi nasehat, wejangan dan petuah yang baik. Mungkin karena tidak mengerti, tidak tahu, atau tahu tapi tidak mau tahu. Aku yakin betapa seringnya lidah ini melukai hatinya.


Ada kredo yang mengatakan “kasih ibu sepanjang masa” sangat terasa betulnya ucapan itu. Apalagi kalau ingat bagaimana Dia sering sekali melindungi aku, walaupun sudah benar-benar kenyataannya memang bersalah. Tidak jarang dia sering melindungi ketika bapak sudah mau marah besar. Ibu yang selalu menenangkan bapak untuk memberinya bahasa pengertian, sehingga lambat laun emosi bapak juga mereda…Ah aku tidak tahu bagaimana bila ibu tidak ada disampingku waktu itu. Yang pasti setelah selesai, dia bilang bahwa kesalahan itu jangan diulangi.

Oh iya tidak jarang ibu juga melakukan upaya preventif agar aku tidak kena marah duluan, biasanya dia dulu yang bilang “agak keras” sebagai cara untuk memarahiku. Hingga harapannya kesalahan itu tidak tercium bapakku, amanlah aku kalau begitu…..Ah alangkah baiknya ibuku. Bukan seperti ibu yang aku temui, sering memarahi anaknya di depan suaminya, hanya untuk suaminya tahu bahwa dia juga mendidiknya dengan baik, hanya ingin dilihat baik dimata suaminya….Untungnya ibuku ngga seperti itu….

05 July 2009

BUKANKAH BEGINI SEHARUSNYA???

Catatan 4 Juli 2009
Sengaja saya memulai judul tersebut dengan sebuah pertanyaan. Ketika banyak kejadian yang menimpa kita tidak sesuai harapan. Ketika keinginan dan harapan kadang tak linier dengan realita. Apalagi yang harus kita lakukan selain bertanya. Kenapa begini dan kenapa begitu itu pertanyaan yang akan muncul. Karena untuk bertanya harus berpikir . Karena setiap pertanyaan memerlukan jawaban. Dan untuk bisa menjawab harus merenung. Maka berpikir dan merenung..itulah kuncinya. Persis seperti pertanyaan Tuhan yang ditujukan kepada kita “apakah kamu tidak berpikir?”. Bagi saya inilah kualitas yang akan membedakan manusia satu dengan lainnya. Bukankah dengan berpikir pula kita pantas dijuluki dengan label Homo Sapien.

Bagi saya, kualitas hidup seseorang ditentukan dari seberapa hebat dia bisa menjawab semua pertanyaan dalam hidup. Tentu jawaban yang saya maksud bukan jawaban berupa verbal, tapi berupa action ketika menghadapi setiap kesulitan. Layakna anak sekolah, semakin tinggi kelasnya, maka akan semakin sulit pertanyaannya. Harus semakin berpikirlah untuk menjawabnya. Tapi tentu tidak semudah itu. Untuk bisa menjawab persoalan dengan baik. Pertanyaan yang munculpun jelas jangan yang biasa, agar tidak mudah terbaca.



Menurut saya, bagi kebanyakan orang, pertanyaan yang sulit akan hadir dari banyaknya dia mengalami hal-hal yang baru. Tak ubahnya seperti anak kecil yang bingung dan bertanya-tanya ketika dapat mainan baru. Biasanya dari hal-hal barulah kita banyak bertanya. Di kehidupan nyata bertemu hal baru dan keluar dari zona normal jelas memerlukan keberanian. Faktanya tidak semua orang berani keluar dari goa tempat dia bersemedi (zona nyaman). Banyak yang terjebak dalam istilah katak dalam tempurung. Mereka merasa mengetahui semuanya. Padahal dunia yang dia jalani hanya itu-itu saja. Kembali ke cerita diatas bahwa untuk bisa bertanya ,kita harus banyak menemui hal-hal baru.

Ada juga orang yang bisa membuat pertanyaan hidup tanpa harus melibatkan diri dalam hal baru. Bagaimana caranya??? Cukuplah dengan menjadi pengamat. Seseorang yang melihat sesuatu dari luar dunia yang sedang diamatinya. Contoh Mengamati kenapa banyak orang yang sudah berusaha sekuat tenaga, kerja keras banting tulang atau apapun istilahnya, tapi ternyata masih belum sukses juga. Masih banyak lagi pertanyaan mengenai hidup, mengapa hal ini begini dan mengapa kok jadi begitu. Perbendaharaan masalah yang semakin banyak dan semakin rumit, ketika dicoba untuk diselesaikan, mencari solusi, atau hanya sekedar mencari akar permasalah, jelas akan membuat kita berpikir keras, sehingga buah dari itu semua pemahaman dan pengertian kita dalam hidup semakin baik. Ditambah lagi kalau kita bisa menjadi bijaksana karenanya. Kan bisa dapat untung banyak….he3 kaya jualan aj.

Banyak hal yang mengganjal menjadi pertanyaan yang masih belum bisa terpecahkan. Besar harapan kalau blog ini akan menjadi media dan saksi bagaimana saya melihat hidup lebih dekat lagi. Berapa banyak pertanyaan yang bisa saya kumpulkan. Sedalam apa jawaban yang akan terbongkar dan tergali dari buah pikiran dan tindakan ini. Seberapa pantaskah jawaban itu bisa menjadi referensi banyak orang, ketika mereka dihadapkan dengan masalah yang saya. Atau paling tidak, mampukah jawaban itu bisa memuaskan dari pertanyaan yang muncul dibenak ini….Kita lihat saja nanti…….

25 June 2009

Survei LSI: JK Naik, SBY Turun, Mega Stagnan


JAKARTA, KOMPAS.com — Hasil survei elektabilitas pasangan capres-cawapres yang dilakukan Lembaga Survei Indonesia (LSI), 15-20 Juni 2009, menunjukkan temuan yang dinamis. Mega-Prabowo cenderung stagnan, SBY-Boediono menurun, dan JK-Wiranto mengalami kenaikan jika dibandingkan survei LSI pada akhir Mei.


Kendati demikian, SBY-Boediono masih menempati posisi teratas dengan 67 persen, Mega-Prabowo (16 persen) dan JK-Wiranto (9 persen). Pada survei akhir Mei, SBY-Boediono meraih 70 persen, Mega-Prabowo (16,4 persen), dan JK-Wiranto (7 persen).

Pada rilis LSI dipaparkan, jika dibaca secara konservatif, dengan margin of error 2,8 persen, dukungan SBY-Boediono 64 persen. Kenaikan JK-Wiranto, jika dibaca secara optimistis, elektabilitasnya mencapai 12 persen. Sementara itu, Mega-Prabowo, dengan pembacaan optimistis dengan margin of error 2,8 persen, dukungannya pada waktu survei sebesar 19 persen.

Dengan penurunan 3 persen dari survei terakhir, pasangan SBY-Boediono akan memperoleh elektabilitas 64 persen jika penurunan tersebut terjadi secara linier. Pasangan JK-Wiranto, dengan sisa waktu sekitar 20 hari menjelang pemilu, jika dibaca secara optimistis, diprediksi akan memeroleh 20 persen suara. Sementara itu, pasangan Mega-Prabowo, dengan pembacaan optimistis juga diprediksi memperoleh suara yang relatif sama dengan JK-Wiranto, 20 persen.

Survei yang melibatkan 2.000 responden ini dipilih dengan teknik multistage random sampling. Sampel akhir yang dapat dianalisis sekitar 99,5 persen atau 1.989 responden. Margin of error +/- 2,8 persen, dengan tingkat kepercayaan 95 persen. Metode survei dilakukan dengan wawancara tatap muka.

Sumber : kompas.com

22 June 2009


Paris - Warga 'kota cinta' Paris, terpikat oleh pertunjukan gamelan dan angklung Indonesia di kawasan Jardin du Luxembourg (Taman Luksemburg, red).

Pada sesi interaktif, mereka bahkan antre ingin memainkannya bersama-sama pemain gamelan Indonesia.

Pertunjukan yang digelar pada 21/6/2009 sebagai partisipasi dalam acara Fete de la Musique (Hari Musik Dunia) itu merupakan hasil kerjasama KBRI Paris dengan Restoran Indonesia Paris dan didukung oleh Perkumpulan Pelajar Indonesia (PPI) setempat.


"Pada umumnya warga Paris sangat mengapresiasi pertunjukan bernuansa tradisional Indonesia, yang sangat unik jika dibandingkan dengan pertunjukan-pertunjukan lainnya," Sekretaris III Pensosbud Gustaf Sirait kepada detikcom, Senin sore kemarin.

Indonesia sengaja mengambil lokasi di lingkungan Restoran Indonesia Paris, di kawasan Jardin du Luxembourg, yang berdekatan dengan salah satu pusat acara dan konsentrasi massa Fete de la Musique.

"Diharapkan partisipasi Indonesia semakin menggugah keingintahuan masyarakat Paris akan kekayaan budaya dan wisata Indonesia," demikian Gustaf.

Fete de la Musique merupakan festival musikal tahunan yang dicetuskan oleh Menteri Kebudayaan Perancis Jack Lang (1982) dan digelar setiap 21 Juni.

Festival ini mengambil bentuk pertunjukan dan konser tanpa dipungut biaya, yang menampilkan berbagai genre musik oleh artis dan musisi, baik amatir ataupun profesional di berbagai tempat publik, seperti di area gedung pemerintahan, taman, dan jalan-jalan.

Sejak awal penyelenggaraannya, festival ini sukses sebagai sarana efektif bagi semua orang untuk mengekspresikan diri dalam berbagai jenis musik. Sekarang, festival ini telah menyebar ke lebih dari 100 negara di dunia.


Sumber : detik.com

06 June 2009

Guntur: Marhaenisme Bisa Hancurkan Neoliberalisme


Karawang - Putra sulung Bung Karno, Guntur Soekarnoputra menyatakan paham neoliberalisme yang merugikan rakyat bisa dikalahkan oleh paham marhaenisme yang diajarkan Bung Karno. Guntur mengimbau warga Indonesia agar memegang teguh ajaran Bung Karno.

"Hakekat marhaenisme adalah gotong royong yang bisa menghancurkan paham neoliberalisme dan kapitalisme. Hanya inilah yang diwariskan oleh bUng Karno sepanjang massa," kata Guntur.


Hal itu disampaikan Guntur saat orasi politik di depan sekitar 100 ribu orang di acara peringatan Hari Ulang Tahun ke-108 Bung Karno di Rengasdengklok, Karawang, Jawa Barat, Sabtu (6/6/2009).

Menurut Guntur, ajaran marhaenisme adalah praktek ekonomi kerakyatan sosialisme di Indonesia. Paham marhaenisme merupakan paham yang dianut oleh orang yang tertindas seperti kaum buruh, petani dan nelayan.

"Kalau RI ingin berdiri tegak pegang teguh ajaran Bung Karno yaitu ideologi marhaenisme," tegas Guntur.
Suber : detik.com

01 June 2009

Awas Anas!!!

Oleh Pepih Nugraha

(kompasiana.com) Sengaja saya memberi judul seperti di atas, Awas Anas!!!, semata untuk menarik perhatian pembaca saja. Tidak juga dimaksudkan menggiring pembaca untuk memahami kalimat seru itu ke arah konotasi negatif. Saya akan bercerita mengenai sebuah nama yang perlu dicermati langkahnya dalam pentas politik saat ini sampai lima tahun ke depan: Anas Urbaningrum!

Kalau Anda jeli melihat televisi, akhir-akhir ini Anas sering tampil mewakili Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) baik selaku ketua dewan pembina Partai Demokrat (PD), mewakili PD itu sendiri, atau bahkan mewakili pribadi SBY. Siapapun yang boleh tampil atau tidak boleh tampil di pentas media massa nasional, tidak lepas dari setting interen partai atau bahkan preferensi SBY sendiri. Yang jelas, Anas akhir-akhir ini dominan tampil, menenggelamkan para pentolan partai lainnya, termasuk ketua umum partai Hadi Utomo, dan bahkan Andi Mallarangeng sendiri selaku sesama ketua partai.

Mengapa Anas?

Itu pertanyaan saya yang harus saya jawab sendiri.

Perkenalan saya selaku jurnalis dengan Anas Urbaningrum terjadi tahun 1997 ketika ia terpilih sebagai Ketua PB Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Kebetulan pula, selain meliput partai-partai politik, saya juga mengikuti perkembangan ormas-ormas pemuda dan mahasiswa seperti KNPI, GMNI, PMKRI, dan tentu saja HMI. Saat pelantikan “kabinet HMI Anas”, saya juga hadir, sebuah “kabinet” yang saat itu terlalu bengkak dibanding ketua PB HMI sebelumnya, Taufik Hidayat. Rupanya Anas ingin mengakomodir berbagai kepentingan di “kabinet”-nya saat itu, bukan semata-mata pemborosan sumber daya manusia!

Persinggungan saya dengan Anas, pria kelahiran Blitar, Jawa Timur, 15 Juli 1969 itu saat kami sama-sama pergi ke Finlandia pada pertengahan tahun 1999, meliput proses Pemilu di negeri “Atap Eropa” itu. Selain saya dan Anas, berangkat juga Andi Mallarangeng, Eep Saefulloh Fatah, dan Muhaimin Iskandar. Dari situ saya tahu kapasitas Anas: brilian dalam berdiskusi perihal kebangsaan!

Lama saya tidak bertemu dengan lulusan S1 Fisip Unair 1992 dan Magister Ilmu Politik UI 2000, sampai kemudian saya melihat Anas sudah “menjadi orang” di pentas politik nasional. Terkhir saya bertemu Anas saat yang bersangkutan diuji di Komisi II DPR untuk menjadi anggota KPU, dan berhasil, sampai kemudian dia keluar dari KPU dan merapat ke PD. Anas terjun ke kancah politik praktis!

Kembali… Mengapa Anas?

Saya melihat, tidak sembarang SBY memajukan dan memberi panggung kepada Anas melebihi politisi-politisi lainnya di PD, termasuk “putra mahkota”-nya sendiri, Edhie Baskoro (Ibas). Apa sesungguhnya setting yang diperuntukkan bagi Anas baik oleh PD maupun SBY?

Pertama, Anas sudah pasti lolos dan melenggang ke Senayan sebagai anggota Dewan dari Dapil IV Jawa Timur mewakili PD. Selesaikah tugas Anas hanya semata menjadi anggota Dewan? Menurut saya tidak. Anas tidak semata selesai menjadi anggota Dewan atau “sekadar” ketua komisi bidang politik (Komisi II). Dalam pandangan saya, Anas di-setting Fraksi Demokrat sebagai Ketua DPR menggantikan Agung Laksono dari Golkar!

Realistiskah? Mengapa tidak!

Sebagai pemenang Pemilu Legiskatif 2009, wajar kalau PD lewat fraksinya di Dewan merebut kursi Ketua DPR. Maka, bakal ramailah kelak pemilihan memperebutkan Ketua Dewan ini. Lalu mengapa harus Anas? Saya share dengan pembaca, siapa kiranya politisi dari PD yang melebihi popularitas, kapabilitas dan kapasitas Anas? Maaf harus saya katakan, sampai saat ini saya tidak pernah tahu siapa Ketua Umum PD, kecuali googling terlebih dahulu! Lantas siapa lagi politisi di PD yang se-cool Anas dalam menjawab setiap pertanyaan pers dan dalam memahami setiap persoalan tingkat tinggi?

Memasang Anas sebagai Ketua DPR akan berarti pula terjadi pemecahan rekor sebagai Ketua DPR RI termuda, yakni saat berusia 40 tahun! Prestis sekaligus prestasi tersendiri bagi PD. Memang DPR punya Muhaimin Iskandar (PKB) yang juga politisi muda, tetapi itu ‘kan “hanya” Wakil Ketua!

Sebagai pemenang Pemilu, PD harus “mengamankan” jalannya parlemen agar selalu diupayakan mendukung atau sejalan dengan kebijakan pemerintah, dengan asumsi tentu saja SBY yang menjadi presidennya. Di mata saya, Anas sebagai politisi yang sudah teruji di organisasi-organisasi sebelumnya, akan bisa “mengamankan” jalannya Senayan yang sering panjang dan berliku dalam menyelesaikan satu persoalan!

Kedua, Anas bisa saja di-setting sebagai menteri, yakni Menpora menggantikan Adhyaksa Dault. Sepertinya dengan mudah SBY nanti menempatkan Anas di sini karena kapasitas dan kapabilitasnya. Tetapi menempatkan Anas di posisi ini rasanya kurang menguntungkan dan kurang strategis bagi PD maupun SBY. Yang diperlukan siapapun dari seorang Anas adalah tindakan taktis-praktis terkait mesin organisasi, juga pemikirannya yang bernas!

Ketiga, jika sudah tertempa sebagai Ketua DPR periode 2009-2014, saya melihat saat Pilpres 2014 nanti dimana Anas sudah berusia 45 tahun dan cukup matang, ia siap-siap menjadi kandidat Presiden RI 2014. Perhitungannya sederhana saja. SBY terpagari konstitusi yang hanya membolehkan presiden dua periode saja. Pada Pilpres 2014, SBY tidak bisa mencalonkan diri lagi.

Pertanyaannya, siapa calon Presiden 2014 dari PD?

Tentu saja bukan ketua umumnya yang sekarang. Memajukan tokoh muda yang sudah teruji sebelumnya dalam mengelola konflik mahatinggi di DPR, apalagi tokoh itu juga sudah berhasil merebut kursi ketua umum partai, adalah suatu keniscayaan.

Dan, tokoh itu tidak lain Anas Urbaningrum.

Sumber : bunganas.com


31 May 2009

NEO-INDONESIA


Ketika reformasi bergulir kencang tahun 1998, yang dicita-citakan amat jelas. Meski rumusannya beragam, jalannya cenderung “bongkar dulu”, kekuatan reformasi yang tersebar, strategi pencapaian yang belum rinci, di kedalaman cita-cita itu berujung pada kata “Indonesia baru”, yakni Indonesia yang lebih baik : demokratis, adil dan sejahtera.

Rakyat sudah kehilangan kepercayaan kepada sistem politik otoritarian, sistem ekonomi yang tidak adil karena perselingkuhan kekuasaan dengan bisnis, sistem hukum yang tidak berjalan dan koruptif, kesenjangan kemakmuran, dan sebagainya. Rakyat memimpikan Indonesia yang dicita-citakan, Indonesia yang bisa menjadi “rumah besar” yang aman dan nyaman bagi semua, Indonesia for all. Eksistensi dan kemajuan Indonesia musti mendatangkan faedah secara adil bagi seluruh rakyat, dan itulah yang selanjutnya menjadi penyangga dan sekaligus turbin penggerak bagi kemajuan Indonesia selanjutnya, terus-menerus, tanpa henti.

Yang acapkali sebagian kita kurang sadar adalah bahwa membangun “Indonesia baru” tidak bisa seperti Bandung Bondowoso membangun Candi Sewu untuk Loro Jonggrang. Tidak bisa juga seperti tanam padi, tanam sayur dan tanam jagung. Tamsilnya mirip tanam kelapa atau pohon jati. Butuh waktu yang tidak pendek, butuh proses dan menghajatkan tahapan-tahapan yang berkelanjutan. Rumus sosiologis pergerakan masyarakat dan bangsa tidak bisa dinafikan.

Itulah yang sudah dilewati oleh Indonesia, sepuluh-sebelas tahun terakhir. Masa Presiden Habibie jelas telah menanamkan saham yang besar. Jaman Presiden Abdurrahman Wahid telah memberikan kontribusi penting. Periode Presiden Megawati Soekarnoputri juga memproduksi kemajuan yang lumayan. Perjalanan pemerintahan Presiden SBY telah berhasil membangun pondasi yang kuat dan tepat lokasi untuk “rumah masa depan”, yakni “Indonesia baru” itu.

Segalanya mengalami pembaruan dan kemajuan. Ada yang berjalan cepat dan ada pula yang masih perlu didorong dengan keras. Keamanan dan ketertiban publik makin baik. Penegakan hukum dan pemberantasan korupsi makin nyata. Kemajuan ekonomi bukan saja mampu menjaga momentum pertumbuhan, tetapi juga berhasil menekan angka kemiskinan dan pengangguran. Ketahanan pangan mulai terbangun dengan cukup meyakinkan. Demokrasi dan kebebasan tumbuh dan mekar dengan ukuran-ukuran yang makin relevan. Martabat dan peran internasional Indonesia makin pulih dan bahkan cenderung meningkat. Dan banyak lagi yang bisa kita sebut. Artinya, jalan menuju “Indonesia baru”, sebagaimana dicita-citakan reformasi 1998, sudah pada lintasan yang tepat. Tinggal dilanjutkan dan didorong lebih akseleratif.

Yang justru musti kita perbarui adalah tradisi kompetisi politik. Ini soal budaya kompetisi dan mentalitas. Terus terang, ini penting. Agar tatanan baru, jalan baru dan pergerakan baru menuju Indonesia yang kita cita-citakan, juga diikuti dan bahkan ditopang oleh mentalitas dan kultur politik baru yang dewasa dan demokratis. Kita harus dengan sadar “memuseumkan” cara-cara kompetisi politik lama yang ketinggalan jaman. Dendam, permusuhan, pembunuhan kharakter, fitnah, hanya siap menang, kasar, suka kekerasan, dan sejenisnya adalah stok lama yang sudah harus ditarik dari pasar politik demokrasi modern. Sudah old fashion dan bahkan kontraproduktif.

Kita masih ingat dengan cara Orde Baru yang rajin melakukan labelisasi untuk pihak-pihak yang dinilai sebagai “musuh” stabilitas. Istilah “ekstrim kanan” dan “ekstrim kiri” sangat populer dan efektif waktu itu. Itulah cara Orde Baru untuk mencitrakan bahwa adanya ancaman kelompok-kelompok yang membahayakan negara dan rakyat.

Di jaman demokratis, jaman baru, perjalanan menuju “Indonesia baru” sekarang ini, apakah kita justru akan menjadi murid politik labeling khas Orde Baru? Secara tidak sadar, labelisasi seperti “neolib”, menunjukkan belum terjadinya transformasi mentalitas dan kultur politik baru yang demokratis.

Jalan menuju “Indonesia baru” akan lebih lempang jika mental politik kita juga diperbarui. Kompetisi dilakukan dengan mengutamakan tawaran substansi, kebijakan, platform, program, agenda kerja dan langkah-langkah yang nyata. Itulah yang musti disosialisasikan sebagai materi kampanye. Bukan hal-hal yang sumir dan manipulatif. Bahkan sangat baik jika diperdebatkan secara terbuka dan habis-habisan. Tidak cukup dengan agenda debat yang disediakan oleh KPU. Itu baru neo-Indonesia. Wallahu a`lam

Sumber : bunganas.com